Mahasantri Ma’had Al-jami’ah Tuanku Imam Bonjol Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang Siap Berlaga Di Musabaqah Qiraatul Kutub Tingkat Nasional
Melia Kantosa, M.H.
Padang, 17 September 2025 – Santri Alumni Pondok Pesantren Tahfizul Qur’An Alhusna yang kini merupakan mahasantri di Ma’had Al-Jami’ah Tuanku Imam Bonjol Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang untuk pertamakalinya menorehkan prestasi membanggakan. Mewakili Bungo Provinsi Jambi dalam ajang Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) Tingkat Nasional yang akan berlangsung pada tanggal 1 hingga 7 Oktober 2025 di Pesantren As'adiyah, Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Keikutsertaannya menjadi kebanggaan besar bagi keluarga, pesantren, dan kampus yang telah membinanya.
Mahasantri yang akrab disapa Salju ini sebelumnya berhasil lolos seleksi yang dilakukan secara daring. Kemenangannya mengantarkan ia melangkah ke panggung nasional, bergabung dengan ratusan santri terbaik se-Indonesia untuk berkompetisi dalam bidang keilmuan Tarikh. Musabaqah Qiraatul Kutub merupakan salah satu ajang penting bagi kalangan pesantren. Lomba ini berfokus pada kemampuan membaca, memahami, dan mengulas kitab kuning klasik, atau kitab turats, yang menjadi warisan intelektual ulama. Berbeda dengan lomba tilawah atau tahfidz, MQK menuntut kecakapan yang lebih kompleks. Peserta tidak hanya harus fasih membaca teks Arab gundul, tetapi juga mampu menjelaskan makna, menafsirkan istilah, serta mengaitkan isi kitab dengan realita kekinian.
Sejak awal menempuh pendidikan, Salju dikenal tekun dan rajin dalam mempelajari kitab kuning. Kecintaannya pada dunia literasi Islam tumbuh dari lingkungan pesantren yang membiasakan kajian rutin kitab turats setiap hari. Selain mengikuti kuliah, ia juga aktif dalam program pembelajaran yang di adakan di ma’had, mulai dari pembelajaran keislaman, pembelajaran al-qur’an, kearifan lokal, bahasa asing, dan pembelajaran kitang kuning. Tentunya dengan mengikuti pembelajaran kitab kuning yang diadakan di ma’had sangat menunjang kesiapannya untuk perlombaan MQK mendatang.
Langkah menuju tingkat nasional tidaklah mudah. Salju terlebih dahulu mengikuti seleksi internal pesantren, kemudian mewakili lembaganya di tingkat kabupaten/kota. Setelah menorehkan kemenangan, ia melangkah ke tingkat provinsi dan berhasil menyingkirkan para pesaingnya.
“Setiap tahap punya tantangan tersendiri. Kadang saya harus mempelajari kitab yang jarang disentuh, menyiapkan argumentasi yang tajam, dan melatih mental menghadapi dewan hakim. Namun, semua itu justru membuat saya semakin mencintai proses belajar,” tuturnya.
Pencapaian ini tidak lepas dari dukungan pesantren yang selama ini menjadi rumah baginya. Sejak awal, para dosen dan ustadz memberikan pembinaan intensif berupa halaqah kitab, diskusi tematik, hingga simulasi lomba. Rekan-rekan sesama santri juga turut memberi semangat dengan mengadakan forum latihan bersama. Dengan persiapan matang, Salju optimis dapat memberikan yang terbaik. Ia berharap dapat membawa nama harum pesantren, kampus, dan daerahnya.
“Bagi saya, MQK bukan hanya ajang kompetisi, melainkan ruang untuk belajar dan berbagi. Jika saya bisa tampil maksimal, itu sudah menjadi kemenangan tersendiri,” ucapnya penuh keyakinan.
Ma’had Al-Jami’Ah Tuanku Imam Bonjol Universitas Islam Negeri Padang atas nama lembaga kampuspun memberikan harapan besar. “Kami percaya bahwa salju bisa menunjukkan prestasi terbaik. Ini bukan sekadar lomba, melainkan representasi kualitas pendidikan pesantren dan kampus di tingkat nasional. MQK tingkat nasional selalu menjadi momentum penting. Kehadiran santri dari berbagai penjuru negeri menegaskan bahwa kitab kuning tetap menjadi sumber inspirasi keilmuan dan moralitas. Lebih dari itu, MQK juga memperkuat ukhuwah Islamiyah serta memperlihatkan kontribusi nyata pesantren bagi bangsa.
Keikutsertaan Salju di tingkat nasional menjadi bukti bahwa santri tidak hanya ahli dalam memahami teks klasik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat akademik yang tinggi. Dengan doa, dukungan, dan semangat kebersamaan, ia diharapkan mampu meraih prestasi gemilang sekaligus membawa pesan bahwa tradisi intelektual Islam tetap relevan untuk membangun masa depan Indonesia.