Fenomena Ghibah Akademik: Ketika Curhat Teman Berubah Menjadi Fitnah

Husnul Khatimah, M.Hum.

Ghibah di lingkungan ma’had sering dibayangkan sebagai obrolan tentang kehidupan pribadi seseorang soal kebiasaan, penampilan, atau urusan sehari-hari. Namun, ada satu jenis ghibah yang jauh lebih halus, sulit dikendalikan, dan sering tidak disadari: ghibah akademik. Ia terjadi ketika obrolan yang awalnya berupa curhat studi berubah menjadi pembicaraan tentang kelemahan, kekurangan, atau kesalahan teman secara berlebihan, bahkan tanpa kehadirannya. Fenomena ini semakin marak di lingkungan mahasiswa dan mahasantri, terutama di era komunikasi cepat seperti grup WhatsApp, diskusi kelas, hingga obrolan larut malam di asrama. Artikel ini mengurai fenomena tersebut.

Apa Itu Ghibah Akademik?

Secara sederhana, ghibah akademik adalah membicarakan kemampuan, nilai, prestasi, kelemahan, atau proses belajar seseorang ketika ia tidak hadir, dengan cara yang merendahkan atau berpotensi menimbulkan fitnah. Contoh yang sering terjadi:

Dia itu pintar, tapi sombong. Sok banget waktu presentasi.”

“Tugas dia kemarin jelek banget, masa begitu aja nggak bisa?”

“Dosen itu lebih sayang ke dia. Pantas nilainya tinggi.”

“Dia jarang ikut kelas, tapi entah kenapa nilainya aman.”

Kita sering merasa obrolan seperti itu “sekadar komentar”, padahal dampaknya bisa lebih tajam daripada ghibah tentang perkara pribadi.

Mengapa Mahasantri Rentan Terjebak Ghibah Akademik?

Ada beberapa faktor yang membuat lingkungan akademik justru menjadi ruang subur bagi ghibah: Pertama, tekanan akademik dan kecemasan nilai, studi psikologi pendidikan (Santrock, 2019) menunjukkan bahwa mahasiswa sering mengalami kompetisi tak terlihat. Ketika nilai, ujian, dan presentasi menjadi ukuran pencapaian, muncul kecemasan yang mendorong seseorang mencari pelampiasan. Cara paling mudah? Curhat ke teman. Namun tanpa sadar, curhat berubah menjadi membandingkan diri dengan orang lain. Kedua, budaya “sharing” yang tidak terkontrol, dimana mahasantri dikenal dekat satu sama lain. Tinggal di asrama membuat ruang privasi menjadi kecil. Diskusi tentang tugas pun sering melebar ke pembicaraan tentang kemampuan teman lain. Ketiga, sosial media memperbesar efeknya, sebuah komentar kecil di grup: “Eh, kamu lihat presentasinya dia tadi?” bisa memicu rentetan obrolan yang panjang dan negatif. Keempat, salah memahami konsep nasehat, sehingga sebagian merasa bahwa mengkritik teman di belakangnya adalah bentuk “nasehat”. Padahal dalam Islam, nasehat harus dilakukan adalah langsung kepada orangnya, dengan adab, tidak membuka aib. Jika tidak, itu bukan nasehat, melainkan ghibah.

Perspektif Islam: Mengapa Ghibah Akademik termasuk Perilaku Berbahaya?

Al-Qur’an dengan sangat tegas menggambarkan ghibah sebagai tindakan yang menjijikkan: “Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang telah mati?” (QS. Al-Hujurat: 12). Hukum ini tidak berubah hanya karena konteksnya akademik. Ghibah tetap ghibah, meski dibungkus istilah analisis, komentar akademis, diskusi kelas, dan evaluasi teman. Dalam hadits riwayat Muslim, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah: “Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak suka jika ia mendengarnya.” Ini berlaku untuk semua aspek kehidupan, termasuk kecerdasannya, tugasnya, nilainya, dan kemampuannya.

Dampak Psikologis Ghibah Akademik pada Mahasantri

Ghibah akademik tidak hanya melukai perasaan seseorang. Ia memiliki dampak psikologis yang lebih dalam beberapa hal, yaitu: Pertama, merusak rasa percaya diri seperti komentar negatif yang beredar membuat seseorang merasa tidak aman untuk berbicara, berpendapat, atau tampil. Kedua, menimbulkan kecemasan sosial seperti Ia takut salah, takut dikritik di belakang, sehingga menghindari tugas kelas atau diskusi. Ketiga, hubungan sosial menjadi tegang, ghibah menciptakan lingkaran pertemanan yang tidak sehat: penuh kecurigaan dan kompetisi. Keempat, dapat menurunkan kualitas belajar, fokus belajar terganggu karena pikiran dipenuhi kekhawatiran terhadap pandangan teman. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu perkembangan intelektual mahasantri.

Dampak Akademik dan Kognitif

Dalam dunia pendidikan, keikhlasan belajar dan suasana psikologis yang aman sangat menentukan keberhasilan akademik. Lingkungan yang penuh ghibah akan menciptakan suasana tegang, menurunkan kreativitas, mematikan inisiatif, membuat mahasiswa enggan bertanya, dan melemahkan keberanian untuk berkembang. Kelas yang seharusnya menjadi ruang ilmiah berubah menjadi ruang penilaian sosial.

Ghibah Akademik vs Kritik Ilmiah: Bagaimana Membedakannya?

Sering terjadi kebingungan antara “mengkritik” dan “mengghibah”. Kritik ilmiah itu sifatnya objektif, fokus pada karya, bukan orangnya, disampaikan secara langsung, bertujuan memperbaiki, dan ada ruang dialog. Sedangkan ghibah akademik sifatnya ubjektif dan emosional, membahas orangnya, bukan karyanya, dilakukan di belakang, tidak membantu perbaikan, dan menyebarkan persepsi negatif. Jika pembicaraan kita tidak membantu teman menjadi lebih baik, berarti itu bukan kritik, melainkan ghibah.

Bagaimana Cara Menghindari Ghibah Akademik?

Ada banyak cara untuk menghindari ghibah akademik, di antaranya: Pertama, Perbaiki niat ketika berdiskusi, tanyakan pada diri: “Apakah ini bermanfaat atau hanya meluapkan emosi?” Kedua, batasi curhat tentang teman, curhat boleh, tapi fokus pada masalah diri, bukan kelemahan orang lain. Ketiga, bangun etika akademik, kritik hanya boleh dilakukan jika diminta, terkait karya/argumen, dan angsung kepada orangnya. Keempat, kendalikan obrolan di grup media sosial, jika obrolan mulai melebar ke pembicaraan pribadi, hentikan dengan cara halus. Kelima, pelajari adab berdiskusi ala ulama klasik, Imam Nawawi, Al-Ghazali, dan ulama lain memberi prinsip, yaitu adab, niat baik, menjaga lisan, dan menghindari prasangka. Keenam, fokus pada kompetisi diri, bukan kompetisi sosial, Syekh Ibnu ‘Ata’illah berkata: “Perbaikilah dirimu, maka Allah akan memperbaiki keadaanmu.” Ketujuh, membangun lingkungan ma’had yang bebas ghibah, karena ia bisa membahayakan persahabatan, mental mahasantri, kualitas ilmiah, dan suasana belajar.

Namun, ini bukan masalah tanpa solusi. Lingkungan ma’had bisa menjadi tempat terbaik untuk membangun tradisi ilmiah yang sehat, dan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Jika setiap mahasantri menjaga lisannya, maka ilmu akan tumbuh dengan lebih subur, hati lebih tenang, dan ukhwah lebih kokoh. Pada akhirnya, kualitas keilmuan tidak hanya diukur dari nilai dan kemampuan presentasi, tetapi dari akhlak, integritas, dan kemampuan menjaga kehormatan sesama. Karena adab adalah pintu bagi seluruh ilmu.