Transisi Dunia Palsu

Kenny Andika, M.Hum.

Setiap orang punya cerita menarik dalam perjalanan kapalnya, hingga berlabuh di tepi pantai. Lukisan dari kenangan mengantarkan dongeng di penghiburan malam. Tuhan punya cara yang beragam, agar umatnya ikhlas menerima jalan cerita yang terangkai. Seolah menjadi pengingat saat badan sudah ada suatu yang salah sehingga Tuhan beri jalan untuk tersadar. Memang pada dasarnya orang layak ingin rasa nyaman ada dalam hidupnya setiap saat bahkan tidak ada sama sekali. Namun, itu jelas mustahil adanya. Hanya drama telivisi yang dibuat oleh tangan manusia mungkin bisa sesuai kehendak, lain ceritanya dengan drama Tuhan.

Aku besar dan tubuh dari keluarga yang tidak terlalu agamis dan entah mengapa Tuhan menghambuskan keinginan baik dalam tubuh orang tuaku. Kebaikan Tuhan itu adalah menggerakan hati orang tua untuk mengizinkan putrinya masuk ke dunia yang lainnya dari mereka, dunia sekolah berbasis agama Islam. Saat tubuhku telah menginjakkan kaki di sekolah itu, berbaur dengan orang baru yang tidak pernahku temui sebelumnya. Seolah hadir memenemaniku untuk melewati sejarah singkat selama tiga tahun menjadi santriwati.

Aku tidak butuh waktu yang lama untuk beradaptasi dengan dunia baru itu, karena setiap santri harus dipaksa dan didorong untuk mau berubah ke jalan yang lebih baik dan aku senang dengan hal itu. Sehingga aku tubuh menjadi seorang santri yang pada umumnya membatasi ruang gerak untuk bersosialisasi dengan kaum Adam. Allah takdirkan aku tamat dari sekolah setelah tiga tahun menuntut ilmu agama. Jalan yang harus ditembuh selanjutnya ialah masa perkuliahan dan di sinilah kisah itu benar dimulai.

Orang tuaku sama sekali tidak mengizinkan aku untuk lanjut ke pesantren yang lain. Mereka tidak menyetujui itu sama sekali. Jujur saja saat itu aku amat bingung dan tidak tahu hendak apa yang harus aku lakukan, di saat kehendak hati tidak menginginkan kuliah di Universitas Negeri, orang tuaku malah memaksa untuk lanjut di situ. Setelah pertimbangan yang panjang, aku memutuskan untuk ikut kemauan orang tua. Sekeras apa pun keinginan untuk melanjutkan di pesantren yang pada akhirnya tidak ada ridho dari orang tua itu sama saja tidak ada gunanya.

Aku benar masuk ke kampus negeri yang jelas jauh berbeda dari duniaku sebelumnya, tidak terpikirkan sebelumnya dunia perkuliahan di kampus negeri walaupun berbasis Islam akan sama saja dengan sekolahku sebelumnya. Ternyata keduanya jelas tidak sama. Aku tidak menyangka berada di alam yang berbeda, tidak ada sama sekali ruang pemisah antara laki-laki dan perempuan. kedua jenis kelamin itu dapat berbaur tanpa ada rasa canggung. Jujur aku saat itu seperti orang dungu yang tidak mengerti apa-apa.

Aku syok bukan main, sebulan menjalani perkuliahan, saat salah seorang laki-laki mendekat dan mengajak berbicara padahal itu hanya persoalan perkuliahan, tubuhku seakan merespon ketakutan. Sungguh bukan dunia yang aku inginkan. Air mata mungkin tidak pernah mengering daring tempatnya. Masa-masa itu memenag merasa menyesal mengikuti kehendak orang tua. Seakan menyalahi diri sendiri kenapa aku lahir dari keluarga yang tidak mengerti aku. Teman satu kelasku, bahkan satu jurusan menganggap aku aneh dan berlebihan. Tindak sedikit mereka mencemooh atau mengkritik tingkahku yang di luar kata wajar bagi mereka. Sampai akhirnya teman satu kelas mengajak untuk perkumpul sesama penghuni kelas dengan kedok untuk memperkuat silaturahmi sesama mahasiswa. Itu hanya dusta belaka. Sungguh itu hanya tipu daya dibalik rencana yang telah mereka susun untukku.

Saat hari itu duniaku seakan digoncang. Sebagian besar menampakkan wajah tidak suka, aku akui masih ada dua atau tiga orang yang masih memaklumi. Waktu itu, mereka menekanku untuk bertingkah biasa saja agar hidup seperti orang normal pada umumnya. Kala itu, sekujur tubuh gemetar menahan gejolak di dada. Aku tidak sanggup dengan cemooh itu. Kata-kata mereka jelas memojokkanku. Satu kata yang amat teringat di otakku yang disampaikan oleh salah seorang laki-laki di kelasku, di berkata “kami bukan hantu,” sontak pikirinku makin tidak karuan. Sampai beginikah pikiran mereka terhadapku?

Orang-orang mungkin tidak percaya dengan apa yang aku alami selama menjadi mahasiswa. Bagi orang-orang mungkin hal ini hal lelucon yang diciptakan untuk hiburan semata. Tetapi ini benar adanya. Kisah yang tidak pernah aku lupakan hingga akhir hidupku. Bagaimana perjuangku untuk bangkit dari sebuah hinaan hingga menjadi orang yang dihargai oleh orang lain dengan prinsip yang dipegang, bukan hal yang mudah. Seolah ringan, namun itu bagai racun dalam memori pahit perjalanan hidupku. Aku selalu ingat pesan dari para guru saat masih menjadi santri.

Jihad yang sesungguhnya bukan berada di pondok, tetapi jihad yang sesungguhnya setelah keluar dari pondok.

Dari sana aku banyak belajar bahwa, hidup akan selalu berputar dan tidak akan pernah berada di satu titik yang sama. Anggap ini sebagai pembelajaran hidup untuk menghargai diri sebagai anak manusia.Sejak hari itu, aku belajar dan belajar bagaimana hidup sebagai orang yang bisa menempatkan diri pada posisi atau keadaan yang tidak pernah diduga-duga. Bagaimana menjadi sosok yang hadir di tengah orang punya latar belakang yang berbeda. Sehingga dapat berinteraksi dengan cara kita sendiri tanpa menghilangkan norma-norma agama.

Aku bersyukur, akhirnya aku bisa diterima dari berbagai kalangan yang berbeda dengan karakterku yang lebih menyesuaikan diri dengan suasana baru dan ternyata bagiku itu jauh lebih indah, karena kita tidak memandang seseorang hanya dari tampilan saja, melainkan dari hatinya. Inilah yang Allah perlihatkan padaku tentang paksaan dari orang tuaku untuk keluar dari zona nyaman. Pada akhirnya aku tahu orang tua tidak berniat jahat, melainkan mendidikku.

Kita tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Maka, jangan hakimi mereka dengan apa yang kamu dihakimkan.